Minggu, 23 Maret 2014

Obat Anti Konvulsi dan Anti Histamin



BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG                                     
Pada kondisi normal sinyal-sinyal elektrik yang berjalan di sepanjang sel-sel syaraf di otak secara normal terkoordinir dengan baik dalam menghasilkan gerakan-gerakan tertentu. Pada keadaan tertentu sinyal-sinyal elektrik  tersebut dapat secara tiba-tiba melonjak dan tak terkontrol lagi sehingga muncul gerakan-gerakan ritmis yang tak terkendali bahkan hingga kejang (konvulsi).
Penyebab terbesar terjadinya kejang adalah suatu penyakit yang dinamakan EPILEPSI. Dikatakan EPILEPSI bila kejang terjadi secara berkala dan dalam jangka waktu yang lama. Sekitar 20 – 40 juta orang menderita epilepsi, umumnya dialami oleh anak-anak sebelum masa pubertas
Epilepsi (Yunani = Serangan tiba-tiba),Hughlings Jackson, adalah penemu pertama yang mendefinisikan konsep modern tentang epilepsi sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Ia mendefinisikan epilepsi sebagai suatu eposode gangguan sistem syaraf dimana terjadi kenaikan yang tiba-tiba pada potensial listrik di sekelompok neuron di otak.
Definisi saat ini “Gangguan syaraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala akibat aksi serentak dan mendadak dari sekelompok besar sel-sel syaraf di otak . Aksi ini disertai dengan pelepasan muatan listrik yang berlebihan dari neuron”.Serangan kejang (konvulsi) pada penderita epilepsi dapat dipicu oleh keadaan hipoglikemi, eclamsia, meningitis, encefalitis, trauma otak, atau adanya tumor di otak. Beberapa obat seperti klorpromazin, alkohol, dan MAO inhibitor dilaporkan juga memiliki ESO demikian. Obat-obat antikonvulsi bekerja menstabilkan sinyal-sinyal listrik di otak. Sedangakan obat antihistamin, pada umumnya antihistamin yang beredar di Indonesia mempunyai spektrum luas artinya mempunyai efek lain seperti antikolinergik, anti serotonin, antibradikinin dan alfa adrenoreseptor bloker. Golongan obat ini disebut antihistamin (AH1) klasik. Penderita yang mendapat obat AH1 klasik akan menimbulkan efek samping,mengantuk, kadang-kadang timbul rasa gelisah, gugup dan mengalami gangguan koordinasi. Efek samping ini sering menghambat aktivitas sehari-hari, dan menimbulkan masalah bila obat antihistamin ini digunakan dalam jangka panjang.Dekade ini muncul antihistamin baru yang digolongkan ke dalam kelompok AH1 sedatif yang tidak bersifat sedasi, yang memberikan harapan cerah.

1.2     TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengertian obat anti konvulsi.
2.      Untuk mengetahui mekanisme kerja obat anti konvulsi.
3.      Untuk mengetahui efek samping obat anti konvulsi dan cara mengatasinya.
4.      Untuk mengetahui contoh obat anti konvulsi.
5.      Untuk mengetahui manfaat dari antihistamin serta macam-macam antihistamin yang digunakan untuk mengatasi penyakit alergi dan juga untuk mengetahui efek samping yang ditimbulkan oleh obat antihistamin supaya antihistamin tidak disalahgunakan.
1.3    RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian obat anti konvulsi ?
2.      Bagaimana mekanisme kerja obat anti konvulsi ?
3.      Bagaimana efek samping obat anti konvulsi dan cara mengatasinya ?
4.      Apa contoh obat anti konvulsi
5.     Apa pengertian obat antihistamin ?
6.    Bagaimanakan mekanisme kerja dan efek samping dari pemberian obat antihistamin ?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Pengertian Anti Konvulsi
Anti Konvulsi merupakan golongan obat yang identik dan sering hanya digunakan pada kasus- kasus kejang karena Epileptik. Golongan obat ini lebih tepat dinamakan ANTI EPILEPSI, sebab obat ini jarang digunakan untuk gejala konvulsi penyakit lain.
Epilepsi adalah nama umum untuk sekelompok gangguan atau penyakit susunan saraf pusat yang timbul spontan dengan episode singkat (disebut Bangkitan atau Seizure), dengan gejala utama kesadaran menurun sampai hilang. Bangkitan ini biasanya disertai kejang (Konvulsi), hiperaktifitas otonomik, gangguan sensorik atau psikis dan selalu disertai gambaran letupan EEG obsormal dan eksesif.  Berdasarkan gambaran EEG, apilepsi dapat dinamakan disritmia serebral yang bersifat paroksimal.

2.2     MEKANISME KERJA
Terdapat dua mekanisme antikonvulsi yang penting, yaitu :
  1. Dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi.
  2. Dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
Mekanisme kerja antiepilepsi hanya sedikit yang dimengerti secara baik. Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi berbagai fungsi neurofisiologik otak, terutama yang mempengaruhi system inhibisi yang melibatkan GABA dalam mekanisme kerja berbagai antiepilepsi.
2.3    EFEK SAMPING DAN CARA MENGATASINYA
Efek samping obat anti konvulsi:
a.       Jumlah sel darah putih & sel darah merah berkurang
b.      Tenang
c.       Ruam kulit
d.      Pembengkakan gusi
e.       Penambahan berat badan, rambut rontok 
Cara Mengatasi efek samping obat Anti konvulsi:
1.      Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lain dari benda keras, tajam atau panas.
2.      Longgarakan pakaian, bila mungkin miringkan kepala kesamping untuk mencegah sumbatan jalan nafas.
3.      Biarkan kejang berlangsung, jangan memasukkan benda keras diantara gigi karena dapat mengakibatkan gigi patah.
4.      Biarkan istirahat setelah kejang, karena penderita akan bingung atau mengantuk setelah kejang.
5.      Laporkan adanya serangan pada kerabat dekat penderita epilepsy ( penting untuk pemberian pengobatan dari dokter ).
6.      Bila serangan berulang dalam waktu singkat atau mengalami luka berat, segera larikan ke rumah sakit.

2.4    CONTOH OBAT
Beberapa Obat Golongan Antikonvulsi/ Antiepilepsi.
a.       Golongan Hsidantoin
Pada golongan ini terdapat 3 senyawa yaitu Fenitoin, mefentoin dan etotoin, dari ketiga jenis itu yang tersering digunakan adalan Fenitoin dan digunakan untuk semua jenis bangkitan, kecuali bangkitan Lena.Fenitoin merupakan antikonvulsi tanpa efek depresi umum SSP, sifat antikonvulsinya penghambatan penjalaran rangsang dari focus ke bagian lain di otak.
b.      Golongan Barbiturat
Golongan obat ini sebagai hipnotik- sedative dan efektif sebagai antikonvulsi, yang sering digunakan adalah barbiturate kerja lama ( Long Acting Barbiturates ).Jenis obat golongan ini antara lain fenobarbital dan primidon, kedua obat ini dapat menekan letupan di focus epilepsy.
c.       Golongan Oksazolidindion
Salah satu jenis obatnya adalah trimetadion yang mempunyai efek memperkuat depresi pascatransmisi, sehingga transmisi impuls berurutan dihambat , trimetadion juga dalam sediaan oral mudah diabsorpsi dari saluran cerna dan didistribusikan ke berbagai cairan tubuh.
d.      Golongan Suksinimid
Yang sering digunakan di klinik adalah jenis etosuksimid dan fensuksimid yang mempunyai efek sama dengan trimetadion. Etosuksimid diabsorpsi lengkap melalui saluran cerna, distribusi lengkap keseluruh jaringan dan kadar cairan liquor sama dengan kadar plasma. Etosuksimid merupakan obat pilihan untuk bangkitan lena.
e.       Golongan Karbamazepin
Obat ini efektif terhadap bangkitan parsial kompleks dan bangkitan tonik klonik dan merupakan obat pilihan pertama di Amerika Serikat untuk mengatasi semua bangkitan kecuali lena. Karbamazepin merupakan efek analgesic selektif terutama pada kasus neuropati dan tabes dorsalis, namun mempunyai efek samping bila digunakan dalam jangka lama, yaitu pusing, vertigo, ataksia, dan diplopia.
f.       Golongan Benzodiazepin
Salah satu jenisnya adalah diazepam, disamping senagai anti konvulsi juga mempunyai efek antiensietas dan merupakan obat pilihan untuk status epileptikus.
                       
Berikut adalah obat antikonvulsi :
v  Alpentin
Komposisi                  : 300 mg
Indikasi                      : kejang parsial , kejang yang tidak dapat dikendalikan
Efek samping              : pusing, lelah, ataksia, sakit kepala, mual, muntah
Dosis                           : dewasa dan anak > 12 tahun : sehari 900 mg-1800 mg
Kemasan                     : Dus 5x20 : 3x10 Rp. 330.000,00

v  Bamgetol
Komposisi                  : 200 mg
Indikasi                      : epilepsy, neuralgia terminal, neuralgia glosofaringeal
Efek samping              : setelah 7-14 hari hilangnya nafsu makan, mulut kering, sakit kepala, terkadang timbul reaksi alergi
Dosis                           : dewasa sehari 2 x 200 mg
Kemasan                     : Dus 1x10 kapl Rp 160.000,-

v  Dilantin
Komposisi                  : 100 mg
Indikasi                      : grand mal, parsial kompleks
Efek samping              : nistagmus, ataksia, pusing, sakit kepala, gangguan pencernaan
Dosis                           : anak 5mg/hari, anak>6th dan remaja 300mg/hari, dws 3x100 mg/hari
Kemasan                     : botol 100kap 100mg Rp 287.775,00
v  Galepsi
Komposisi                   :300 mg
Indikasi                       : epilepsi, nyeri neuropatik
Dosis                           : dewasa dan anak  > 12 tahun sehari 900-1800 mg
                                      Diberikan dalam 3 dosis terbagi :
                                      Hari 1 : sehari 1x300 mg
                                      Hari 2 : sehari 2x300 mg
                                     Hari 3  : sehari 3x300 mg
Efek samping              : pusing, ataksia, kelelahan,sakit kepala
Kemasan                     : Dus 3x10

v  Riklona
Komposisi                   : 2 mg
Indikasi                       : obat epilepsy
Dosis                           : dosis awal < 10th(bb sampai 30kg) : 0,01-0,03 mg/hari
                                     Dewasa : sehari 1-2 mg
Efek samping              : mengantuk, letih, pusing, kepala terasa ringan.
Kemasan                     : Dus 10x10 tab Rp 400.000,-

v  Prolepsi
Komposisi                   : Oskarbazepin 300mg
Indikasi                       : Pengobatan serangan parsial
Dosis                           : dosis disesuaikan dengan kebutuhan pasien secara
                                      Individu
                                     Dewasa : dosis awal sehari 300 mg
                                     Epilepsy berat dosis awal : 300mg
                                     Anak anak (>5thn)  : 10 mg/hari
Efek samping              : letih, pusing, mengantuk, sakit kepala, gemetar
Kemasan                     : Dus 5x10 tab 300mg Rp. 325.000,00
                                     Dus 5x60 Rp. 625.000,00

v  Sibital
Komposisi                   : 10 mg
Indikasi                       : penderita alergi, epilepsy
            Dosis                           : dewasa 100-325 mg
                                                 Anak anak 1-3 mg diberikan secara perlahan sampai
                                                Kejang berhenti
            Efek samping              :mengantuk, fertigo, kegelisahan
            Kemasan                     : dus 10x2 ml Rp. 54.000,00

v  Temporol
Komposisi                   :200 mg
Indikasi                       : epilepsi, psikomotor
Dosis                           : dewasa sehari 2x ½ - 1 tablet, anak 6-12 tahun 10-20 mg
Efek samping              : pusing, lelah, mengantuk, mual
Kemasan                     : 10x10 tab


2.5    ANTIHISTAMIN
Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada reseptor H-1, H-2 dan H-3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek histamin yang sudah terjadi. Antihistamin pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor khas. Antihistamin sebagai penghambat dapat mengurangi degranulasi sel mast yang dihasilkan dari pemicuan imunologis oleh interaksi antigen IgE. Cromolyn dan Nedocromil diduga mempunyai efek tersebut dan digunakan pada pengobatan asma, walaupun mekanisme molekuler yang mendasari efek tersebut belum diketahui hingga saat ini.


2.5.1 MACAM-MACAM ANTIHISTAMIN
1.      Antihistamin (AH1) non sedatif
a.       Terfenidin
Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
b.      Astemizol
Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.


c.       Mequitazin
Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d.      Loratadin
Merupakan suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. 1. Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin (DCL) bersifat aktif secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
2.      Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin.
a.       Antagonis Reseptor Histamin H1
Secara klinis digunakan untuk mengobati alergi. Contoh obatnya adalah: difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.
b.      Antagonis Reseptor Histamin H2
Reseptor histamin H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2 (antihistamin H2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan lafutidina.
c.       Antagonis Reseptor Histamin H3
Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif. Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
d.      Antagonis Reseptor Histamin H4
Memiliki khasiat imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik. Contohnya adalah tioperamida.
Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai antihistamin.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.

2.5.2    MEKANISME KERJA ANTIHISTAMIN
Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine. Yang paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat). Antihistamin menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin, produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan penglihatan kabur. Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi. Beberapa fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat (hidroksizin dan prometazin).
1.      Antihistamin H1
Meniadakan secara kompetitif kerja histamin pada reseptor H1. Selain memiliki kefek antihistamin, hampir semua AH1 memiliki efek spasmolitik dan anastetik lokal.
2.      Antihistamin H2
Bekerja tidak pada reseptor histamin, tapi menghambat dekarboksilase histidin sehinnga memperkecil pembentukan histamin jika pemberian senyawa ini dilakukan sebelum pelepasan histamin. Tapi jika sudah terjadi pelepasa histamin, indikasinya sama denfan AH 1.

2.5.3    EFEK SAMPING ANTIHISTAMIN
Promethazine, antihistamin jenis fenotiazin yang digunakan secara luas karena sifat  antimuntah dan penenang yang dimilikinya, telah dilaporkan menyebabkan agitasi, halusinasi, kejang, reaksi distonik, sudden infant death syndrome, dan henti napas. Efek samping ini umumnya lebih berat dan signifikan pada bayi, sehingga pabrik pembuatnya memperingatkan agar tidak diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun. Namun, efektivitas promethazine sebagai sedatif (penenang) dapat disalah gunakan oleh orang tua untuk menangani anak yang berteriak-teriak. Antihistamin generasi kedua mempunyai efek samping antikolinergik lebih sedikit dan dianggap tidak menimbulkan efek sedatif pada anak dalam dosis terapi.
Efek sedasi, dari hasil penelitian oleh perocek, dibandingkan difenhidramin 2x50 mg dengan loratadine dosis tunggal 20 mg. Hasilnya memperlihatkan efek sedasi difenhidramin lebih besar dibanding loratadine. Jadi loratadine tidak mempengaruhi kemampuan mengendarai, tingkat kewaspadaan siang hari dan produktifitas kerja. Juga loratadin menghilangkan gejala rhinitis alergi musiman secara efektif dan absorbsi oralnya sangat cepat serta memiliki masa kerja yang panjang, sehingga cukup diberikan sekali dalam sehari.
Gangguan psikomotor yaitu gangguan dalam pekerjaan yang melibatkan fungsi psikomotor, merupakan masalah yang menjadi perhatian dalam terapi yang menggunakan antihistamin. Efek samping terlihat saat pasien melakukan kegiatan dengan resiko fisik seperti mengendarai mobil, berenang, gulat, atau melakukan pekerjaan tangan. Gangguan fungsi psikomotor adalah efek yang berbeda dari terjadinya sedasi (rasa mengantuk). Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa loratadin tidak mengganggu kemampuan mengendarai dan tidak memperkuat efek alkohol.
Gangguan kognitif adalah gangguan terhadap kemampuan belajar, konsentrasi atau ketrampilan di tempat bekerja. Dari hasil penelitian memperlihatkan antihistamin generasi pertama terutama difenhidramin menyebabkan gangguan kemampuan belajar, konsentrasi, atau ketrampilan di tempat kerja. Sedangkan loratadin meniadakan efek negative dari rhinitis alergi terhadap kemampuan belajar. Dengan menggunakan loratadin tampaknya memperbaiki kemampuan belajar anak, penderita rhinitis alergi.
Efek kardiotoksisitas, antihistamin selama ini dianggap sebagai obat yang aman, tetapi sejak akhir tahun 80-an mulai muncul beberapa jenis antihistamin yang digunakan dengan dosis yang berlebihan. Sehingga dapat menyebabkan pasien yang menggunakan mengalami gangguan pada jantung (kardiotoksisitas). Namun dari hasil penelitian, loratadin merupakan antihistamin yang tidak berhubungan dari serangan kardiovaskuler yang membahayakan jiwa itu.
Untuk pasien yang aktif bekerja harus berhati-hati dalam menggunakan antihistamin, karena beberapa antihistamin memiliki efek samping sedasi (mengantuk), gangguan psikomotor,dan gangguan kognitif. Akibatnya bila digunakan oleh orang yang melakukan pekerjaan dengan tingkat kewaspadaan tinggi sangat berbahaya.Untuk itu pasien yang aktif bekerja sebaiknya gunakan antihistamin yang aman dan efektif seperti loratadin, sudah terbukti tidak menimbulkan sedasi, tidak mengakibatkan terganggunya fungsi psikomotor dan fungsi kognitif. Juga terbukti aman tidak menyebabkan kardiotoksisitas dan efektif karena cukup diminum 1x sehari, karena memiliki masa kerja yang panjang serta diabsorbsi secara cepat.
Antihistamin Generasi Pertama:
·         Alergi – fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.
·         Kardiovaskular – hipotensi postural, palpitasi, refleks takikardia, trombosis vena pada sisi injeksi (IV prometazin)
·         Sistem Saraf Pusat – drowsiness, sedasi, pusing, gangguan koordinasi, fatigue, bingung, reaksi extrapiramidal bisa saja terjadi pada dosis tinggi
·         Gastrointestinal – epigastric distress, anoreksi, rasa pahit (nasal spray)
·         Respiratori – dada sesak, wheezing, mulut kering, epitaksis dan nasal burning (nasal    spray)


Antihistamin Generasi Kedua Dan Ketiga:
·         Alergi – fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.
·         SSP* – mengantuk/ drowsiness, sakit kepala, fatigue, sedasi
·         Respiratori** – mulut kering
·         Gastrointestinal** – nausea, vomiting, abdominal distress (cetirizine, fexofenadine)

Contoh obat antihistamin generasi I :
CTM
Komposisi             : mengandung chlorpheniramine maleate
Indikasi                 : bersin, gatal,mata berair
Kontraindikasi      : pasien dengan riwayat persensiatif
Dosis                     : kondisi alergi 4mg tiap 4-6 jam
Dosis maximal       : 24mg/hari

Prometazine
Komposisi             : Per 5ml karbosistein 100mg,prometazin HCl 2,5mg
Indikasi                 : bayi berusia kurang dari 1tahun
Efek samping        : mengantuk
Kemasan               : sirup 100 ml
Dosis                     : ana usia > 5 tahun 2-8 sendok

Difendidramin
Efek samping : pusing, mengantuk, mulut kering
Kontra indikasi : Hipersensitif pada difenhidramin, asma  akut dan tidak boleh untuk neonates.

Aturan Pemakaian
ANAK-ANAK:
Oral, i.m, i.v:
Reaksi alergi : 5 mg/kg/hari atau 150 mg/m2/hari dalam dosis terbagi tiap 6-8 jam, tidak lebih dari 300 mg/hari
Alergi rhinitis ringan dan mabuk perjalanan:
Usia 2 sampai <6 tahun : 6,25 mg tiap 4-6 jam; maksimal 37,5 mg/hari
Usia 6 sampai <12 tahun : 12,5-25 mg tiap 4-6 jam; maksimal 150 mg/hari
Usia ≥ 12  tahun : 25-50 mg tiap 4-6 jam; maksimal 300 mg/hari
Membantu tidur dimalam hari: diminum 30 menit sebelum tidur
Usia 2 sampai <12 tahun : 1 mg/kg/dosis  tiap 4 jam; maksimal 50 mg/hari
Usia ≥ 12  tahun : 50mg

Oral sebagai  antitusif
Usia 2 sampai <6 tahun : 6,25 mg tiap 4 jam; maksimal 37,5 mg/hari
Usia 6 sampai <12 tahun : 12,5-25 mg tiap 4 jam; maksimal 75 mg/hari
Usia ≥ 12  tahun : 25 mg tiap 4 jam; maksimal 150 mg/hari
Pemberian secara i.m dan i.v: perawatan reaksi dystonic 0,5-1 mg/kg/dosis
DEWASA:
Oral : 25-50 mg tiap 6-8 jam
§  Alergi rhinitis ringan dan mabuk perjalanan: 25-50 mg tiap 4-6 jam; maksimal 300 mg/hari
§  Membantu tidur dimalam hari: 50 mg sebelum tidur
Pemberian secara i.m dan i.v: 10-50 mg dosis tunggal tiap 2-4 jam, tidak lebih dari 400 mg/hari
Reaksi dystonic : 50 mg dosis tunggal, ulang setelah 20-30 menit jika perlu
Topical : tidak  boleh diberikan lebih dari 7 hari
Merk dagang :Benacol, Bidryl, Fortusin, Ikadryl, Inadryl, Koffex, Licodril

Antihistamin generasi II :

·         Fexofenadine
Indikasi                             : Rhinitis alergi musiman,idiopatik kronik ultikaria
Kontraindikasi                  : anak dibawah 6 tahun
Dosis                                 : Dewasa 120 mg satu kali sehari. Anak 6-12 tahun 30mg  2xsehari
Sediaan                             : Tablet 30mg,120mg,180mg
Efek samping                    : mulut kering, nyeri perut, mual,sakit kepala,mengantuk

·         Cetirizine
Komposisi             : Tiap kapsul mengandung cetirizine dihidroklorida 10mg
Indikasi                 : untuk pengobatan perennial rhinitis
Dosis                     : dewasa 1x/hari 1 kapsul
                                Anak > 12 tahun 1x/hari 1 kapsul
·         Loratadine
Indikasi                             : untuk mengatasi gejala gejala rhinitis alergik, bersin bersin, pilek
Dosis                                 : dosis oral (tablet sirup)
Dewasa dan remaja : 10mg/hari
Anak anak6-12thun : 10mg/hari
Anak anak 2-5tahun : 5ml sirup sekali sehari
Efek samping                    : tidak menunjukkan sifat sifat sedative yang secara klinis berarti rasa lelah
·         Tertanadine
Komposisis                        : tiap tablet mengandung pseudoephedrine Hcl 30mg
Indikasi                             ; alergi
Kontraindikasi                  : penderita dengan gangguan fungsi hati dan wanita hamil
Dosis                                 : Dewasa dan anak diatas 12 tahun 3x sehari 1 tablet
Efek samping                    : gangguan saluran cerna mual , muntah
                                           Gangguan susunan saraf pusat insomnia

                                               
             

BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Anti konvulsi adalah obat yang di gunakan terutama untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (epilec seizure). Bangkitan ini biasa di sertai kejang (konvulsi). Hiperaktivitas otonom,gangguan sensoris atau psikis. Obat anti konvulsi di sebut juga obat anti-epilepsi. Epilepsi{berasal dari bahasa Yunani berarti Kejang}atau di indonesia di kenal dngan penyakit ayan.Ayan adalah penyakit yang menyerang saraf sehinggaa fungsi saraf terganggu yang timbul secara tiba-tiba dan berkala,biasa nya di sertai perubahan kesadaran.penyebab utama dari epilepsi adalah akibat adanya muatan listrik yang cepat. Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada reseptor H-1, H-2 dan H-3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek histamin yang sudah terjadi.
3.2     Saran
Dari hasil kesimpulan yang telah dikemukakan maka dapat diberikan saran-saran sebagai bahan masukan bagi pihak yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kualitas dalam pemberian obat anti diuretik guna menunjang peningkatan kualitas kesehatan ibu sehingga dapat menjadi literature guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan khususnya kesehatan ibu.


DAFTAR PUSTAKA
ISO INDONESIA VOLUME 47
Wikipedia Indonesia
http://obatantihistamin.blogspot.com/2010/12/obat-antihistamin.html
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=393
http://habib.blog.ugm.ac.id/kuliah/histamin-dan-antihistamin/
http://milissehat.web.id/?p=1474